Rabu, 03 Agustus 2016

sejarah desa gulang




Menelusuri asal usul Desa Gulang, (seperti di blog desa gulang )Bukanlah pekerjaan yang mudah. Dikarenakakan sampai sekarang tidak ada dokumen secara resmi yang dimiliki oleh pemerintah. Namun kalau kita menelusuri baik itu cerita rakyat, serta peninggalan peninggalan yang sampai sekarang masih bisa kita lihat itu satu bukti yang bisa rangkum untuk menjadi tulisan sejarah desa Gulang pada masa lampau. Yang jelas Gulang keberadaanya bisa di katakan desa yang sangat luas sekali.
masjid darur rahmah
Hal ini bisa lihat adanya petilasan “ Joko Gedug “ yang konon ceritanya adalah merupakan tokoh pada zaman kerajaan Malowopati ( sebelum kerajaan Majapahit ). Petilasan tersebut sampai sekarang masih banyak di kunjungi orang baik itu warga gulang maupun warga luar kabupaten Kudus. Sesuai sumber yang kita dapatkan dari yangdi kenal sebagai juru kunci petilasan ki jogo Gedug yang mana Den Sur ( Suryadi ) bahwa :
Pada abad ke 13, sekitar 1300 M, Pada waktu itu Prabu Anglkling Darma raja Malowopati mengalami sakit tidakl sadarkan diri selama 2 tahun. Untuk pengobatanya ada seorang resi yang mendapatkan wangsit untuk mencarikan telur Mliwis putih. Pada waktu itu  Eyang Jogo Gedug / Ki Jogo Gedug sanggup untuk mencarikan telur mliwis putih kemudian beliau mengembara dari desa Sumber Mulya Sarang kabupaten Rembang ke arah barat dan berjalan sampai beberapa bulan. Akhirnya sampailah suatu tempat yang belum ada namanya ( atau hutan belantara ). Setelah tinggal beberapa lama di tempat itu, pada waktu menjelang hampir pagi / fajar terdengar burung Blibis putih terbangnya ke arah selatan. Setelah jalan ke selatan sampailah di sebuah rawa di situ ada pohon cankring. Diatas pohon itu hinggap seekor burung dan burung itu di dekati Eyang Joko Gedug / Ki Jogo gedug, akhirnya burung itu terbang. Setelah burung itu terbang ada sebuah telur burung blibis yang terapung  diatas air. Kemudian telur itu di ambil ki Joko Gedug / Eyang Joko Gedug dan di bawa ke kerajaan Malowapati Bojonegoro di aturkankepada abdi dalem kerajaan Malowapati untuk di minumkan kepada prabu Angkling Darmo. Setelah di minumkan pada saat itu juga prabu angkling darmo bangun . dan bercerita kalau dirinya tidak merasa sakit bahkan dia di ajak keliling dunia oleh seorang wanita  yang bernama Batari Pandansari. Setelah itu eyang Joko Gedug di suruh tinggal di dalam kerajaan Malowapati sampai beberapa tahun untuk menjadi abdi dalem kerajaan Malowapati. Suatu ketika Eyang Joko Gedug teringat pada waktu sejarah penemuan telur Belibis putih. Akhirnya beliau memutuskan untuk kembali ke tempat di temukanya telur burung Belibis Putih. Ditempat itu akhirnya menjadi tempatorang banyak menimba ilmu penyembuhan atau belajar. Ilmu penyembuhan kemudian di sebutlah Gulang yang berasal dari kata Gegulang yang artinya belajar.
Dilhat dari peninggalan yang lain diantaranya terdapat makam ki Gede Gulang / Kyai ageng Gulang. Yang konon ceritanya beliau adalah  tokoh Suer ( Punggawa Demak ) yang sampai sekarang juga masih di kunjungi banyak orang bahkan di lakukan tradisi masyarakat yang berupa   “Bukak Luwur” dalam setiap tahunya. Bahkan kisah ki Gede Gulang telah tercatat dalam buku yang berjudul “ Kudus Purbakala dalam Perjuangan Islam” yang di tulis oleh Solichin Salam yang d terbitkan oleh penerbit “ Menara Kudus” tahun 1977.
Dalam buku tersebut tertulis, “ Adapun di Desa Loram ini ada Sebidang Tanah yang di sebut Pasiten ( lemah Putihan ) yang katanya dulu tanaman tanamanya   di sebelah selatan kalau merayap ke utara daunya menjadi kering begitu pula sebaliknya. Karena ceritanya pada zaman dahulu semasa hidupnya, Kyai Ki Gede Gulang / Kyai ageng Gulang dengan Kyai Gede Loram sering bertengkar. Karena itu sesudah meninggal dunia kedua mayat tersebut di makamkan saling bertukar tempat, yaitu Ki Gede Gulang di makamkan di daerah Kyai Gede loram demikian pula sebaliknya. Kalau kita lihat dari uraian buku tersebut bsa di prediksikan ki Gede Gulang hidup di masa abad ke 15 / pada tahun sekitar 1574 M. Keterangan tersebut juga di perkuat oleh bapak Gutomo dan Kyai Ahmad Syamsuri ( Gus Mad ) yang saat ini beliau melanggengkanb Haul / tradisi “Buka Luwur” di makam ki Gede Gulang karena bilau meyakini bahwa wali Gulang adalah Ki Gede Gulang.
Dalam peninggalanya yang lain pula banyak tempat tempat di bagian desa gulang yang konon ceritanya terjadi pembuatan masjid yang tidak jadi / masjid bubar serta tempat di dekatnya bernama bagas yang berasal dari kata “Bahas”tempat tersebut adalah tempat untuk berkumpulnya tokoh tokoh untuk mendirikan masjid bubar tersebut serta membhas permasalahan permasalahan yang ada. Di yakini masjid bubar tersebut adalah pembuatan masjid sebelum masjid agung demak. Desa gulang juga tercatat dalam buku perang cina dan runtuhnya Negara jawa , dalam buku “The Chienese War and The Collapse of Javanese State, 1725-1743” karya Williem Gj Remmelink dikisahkan dalam buku tersebut desa gulang adalah lokasi yang terjadi perang sengit antara cina dan VOC yang mengakibatkan runtuhnya Negara jawa ketangan Hindia Belanda. Hal tersebut juga dapat di buktikan dalam adanya makam cina (bong) di desa Gulang yang tersebar dalam beberapa tempat.
Pertempuran sengit di Desa Gulang itu VOC di pimpin oleh kapten Gerrit Mom dan Van Hohendroff. Berjalan sampai beberapa bulan sampai di desa yang belum ada namany. ( desa Gulang masih hutan belantara), setelah tinggal sampai beberapa bulan menjelang hampir pagi terdengar suara burung Belibis ternyata di lihat ternyata burung belibis putih terbangnya kea rah selatan. Setelah sampai di sebuah rawa ada pohon cangkring ada burung yang hinggap di dekati eyang Joko Gedug. Setelah burung terbang ada sebuah telur burungBelibis yang terpung di atas air. Kemudian telur itu di ambil ki Joko Gedug / Eyang Joko Gedug dan di bawa ke kerajaan Malowapati Bojonegoro di aturkankepada abdi dalem kerajaan Malowapati untuk di minumkan kepada prabu Angkling Darmo. Setelah di minumkan pada saat itu juga prabu angkling darmo bangun . dan bercerita kalau dirinya tidak merasa sakit bahkan dia di ajak keliling dunia oleh seorang wanita  yang bernama Batari Pandansari. Setelah itu eyang Joko Gedug di suruh tinggal di dalam kerajaan Malowapati sampai beberapa tahun untuk menjadi abdi dalem kerajaan Malowapati. Suatu ketika Eyang Joko Gedug teringat pada waktu sejarah penemuan telur Belibis putih. Akhirnya beliau memutuskan untuk kembali ke tempat di temukanya telur burung Belibis Putih. Ditempat itu akhirnya menjadi tempatorang banyak menimba ilmu penyembuhan atau belajar. Ilmu penyembuhan kemudian di sebutlah Gulang yang berasal dari kata Gegulang/ belajar. Banyak pula nama nama di bagian desa Gulang seperti Demangan, Goleng, yang perlu di pecahkan atau di telusuri asal usul nama tersebut. Setelah membaca rangkuman cerita di atas maka perlu ada pengkritisan, saran, serta masukan. Banyak tokoh menyakini bahwa kata Gulang berarti dari kata unggule piwulang ( ilmu yang paling luhur). Hal itu juga pernah di ungkapkan oleh kyai jamilin  dalam khutbah jumat di Majid darur Rohmah.
link